Perjuanganmu TIDAK AKAN menghianatimu !
Wednesday, January 9, 2013
Sunday, January 6, 2013
surat untuk matahari
Hai matahari. Senang sekali Tuhan mengenalkanku padamu. Tuhan memang selalu tahu apa yang kubutuhkan. Terimakasih ya untuk segalanya. Untuk kehangatanmu, untuk cahaya semu-mu yang kamu titipkan pada bulan di malam hari. Terimakasih atas bantuanmu sehingga aku bisa menatap dunia lewat mataku.
Hai matahari. Ini bukan matahari yang 'itu', ini kamu. Senang sekali Tuhan mengenalkanku padamu. Sekali lagi, Tuhan tahu apa yang kubutuhkan. Kamu memang tidak bisa bersinar, tapi kamu memberiku sinar saat aku terjatuh. Kamu membuatku kembali kuat, lebih kuat, bahkan terlalu kuat. Seperti sekarang ini :). Matahari, terimakasih mau mendengarkanku. Walau kamu bukan hujan yang bisa mengerti perasaanku tanpa berkata-kata tapi kamu membuatku terbit bersamamu. Kamu yang mengingatkanku untuk tetap tenang dan tetap kuat. Semua akan baik-baik saja, begitu katamu. Matahari, terimakasih sudah menjadi matahari dalam hidupku. Sekalipun hati ini tinggal serpihan, aku masih memilikimu, matahari yang tersembunyi.
Hai matahari, aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingatmu.
Hai matahari. Ini bukan matahari yang 'itu', ini kamu. Senang sekali Tuhan mengenalkanku padamu. Sekali lagi, Tuhan tahu apa yang kubutuhkan. Kamu memang tidak bisa bersinar, tapi kamu memberiku sinar saat aku terjatuh. Kamu membuatku kembali kuat, lebih kuat, bahkan terlalu kuat. Seperti sekarang ini :). Matahari, terimakasih mau mendengarkanku. Walau kamu bukan hujan yang bisa mengerti perasaanku tanpa berkata-kata tapi kamu membuatku terbit bersamamu. Kamu yang mengingatkanku untuk tetap tenang dan tetap kuat. Semua akan baik-baik saja, begitu katamu. Matahari, terimakasih sudah menjadi matahari dalam hidupku. Sekalipun hati ini tinggal serpihan, aku masih memilikimu, matahari yang tersembunyi.
Hai matahari, aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingatmu.
Page 6. Chapter 1. Book 13.
Hari ini, hari keenam di bulan petama tahun baru. Hari-hari semakin sulit saja. Aku bahkan mulai lupa bagaimana untuk bicara. Mulai lupa apa itu bahagia. Mulai lupa bercerita melalui tangis. Hari-hari makin hambar dan mati rasa.
Hanya mengikuti kaki yang melangkah tanpa arah. Otak tak cukup logis untuk mencari solusi. Ingin bertanya pada hati pun, ia sudah hancur berkeping jauh hari yang lalu. Masih haruskaah aku berbisik pada serpihannya?.
Diam, sendiri. Gemetaran menahan segala rasa. Hidup terlalu kompleks untuk diucapkan walau beribu kata melayang-layang dalam benakku. Andai saja ada yang mengerti. Kali ini aku hanya berani mengucapkan sebuah andai. Aku tak ingin menambahkan andai yang lain. Sudah cukup aku berandai. Itu hanya akan menjatuhkanku lebih jauh. Menjauhkanku dari kata syukur.
Sebuah coklat panas di pagi hari angka sepuluh. Kehangatan menjalari sudut-sudut jiwa yang terlalu dingin, hingga sedikit lagi akan membeku. Pahit. Ia terasa pahit dilidah. Sebuah senyum miring. Sempurna. Bukankah ia sama pahitnya dengan hidupku yang mulai berubah hancur sekarang?. Namun kemudian aku tertegun. Coklat ini pahit, namun aku masih bisa menikmatinya dengan nyaman. Apakah ini sama artinya dengan aku?. Hidupku sama pahitnya dengan coklat ini. Tapi seharusnya aku juga masih bisa mengubah kepahitan ini menjadi sebuah kenikmatan bukan?.
Bapa.. kenapa kau begitu mengasihi yang teramat berdosa? Bahkan melalui hal-hal kecil seperti ini.. kau memberiku kekuatan.
What now? I can't change anything. It doesn't effected to anything. Just God Knows
Friday, January 4, 2013
Karna Hujan yang Mengenalku
Orang bicara soal kebetulan. Namun aku hanya tahu bahwa semua itu diatur Tuhan.
Saat aku tidak dapat mengecap bahagia, hujan biarkan suaranya menggema dan menulikanku sesaat pada suara dunia ini. Hujan biarkan dirinya mewakili kepedihan hati. Hujan bersedia menutupi air mata yang menetes.
Karna Hujan yang mengenalku. Dan Bapa yang mengasihiku.
Karna hujan yang mengenalku tanpa aku harus berkata-kata. Seberapa perih pun hati ini tersakiti, mata ini tidak bisa berkompromi. Untuk menangis. Sedikit saja. Bukannya aku mau cengeng, hanya saja mungkin itu menjadi lebih ringan. Tuhan mengasihiku. Ia mengerti aku tidak bisa menceritakan pada dunia ini. Ia bawakan hujan. Sebagai tangisku yang terganti.
Saat aku tidak dapat mengecap bahagia, hujan biarkan suaranya menggema dan menulikanku sesaat pada suara dunia ini. Hujan biarkan dirinya mewakili kepedihan hati. Hujan bersedia menutupi air mata yang menetes.
Karna Hujan yang mengenalku. Dan Bapa yang mengasihiku.
Thursday, January 3, 2013
Wednesday, January 2, 2013
Bagaimana aku jatuh cinta
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Bertemu denganmu. Terpesona olehmu, namun hati tetap beku karna aku masih terjebak oleh bayangan semu masa lalu. Namun pena Tuhan mendorongku sebuah alur yang terlepas dari logika. Membuatku berhadapan kembali padamu. Mendengar suara lembutmu yang menggetarkan jiwa untuk pertama kalinya. Menemukan aku yang mulai merasa gila dengan reaksi-reaksi yang terjadi tiap mata ini menangkap sosokmu. Pena Tuhan membuatku menyusuri alur cerita, menuntunku untuk mendengar kata itu. Namamu.
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Mengenalmu lebih dalam melalui sebuah skenario aneh yang terlalu drama untuk realita. Mengenalmu dengan terlalu gombal, yang membuatku menghakimimu sama dengan yang lainnya. Membuatku ingin mempermainkanmu saja!. Namun tak kusadari, kau perlahan tapi pasti. Bergerak dalam diam menelusup hatiku.
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Menyia-nyiakanmu yang tertarik padaku. Dulu. Sayangnya itu dulu. Ya, karna aku terlalu naif. Aku terjatuh, tersakiti oleh tingkahku sendiri. Kau bersamanya. Dia yang sebelumnya berkata kau hanya untukku. Dia yang berusaha meyakinkanku bahwa kamulah orangnya. Kau bersamanya.. di depan mataku. Membiarkanku terhimpit oleh kemesraan kalian. Membuatku membencimu. Makin membencimu. Aku hanya tak tahu, bahwa benciku itu, adalah cara bagaimana aku menghindari perasaan-perasaan cinta yang kau baawakan. Karna aku hanya.. takut. Baik, aku bahkan sulit untuk mengakui aku mengangisimu waktu itu. Waktu kau bersamanya.
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Kali ini yang kedua kalinya. Dimana Tuhan tak menginginkan kemunafikanku lagi dengan membawamu kembali masuk setelah satu tahun tanpa kata darimu. Aku memang naif. Pada awalnya aku masih saja menghindarimu. Ketahui saja, aku tak pernah melupakanmu. Sedikit pun. Namun bagaimana?. Aku hanya tak mengerti teori kompleks untuk melupakanmu. Yang ku tahu hanyalah dengan "menjadi lupa" denganmu.
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Mengenalmu lagi. Bodohnya aku terjebak dalam sandiwaraku sendiri. Aku bodoh, menantang skenario Tuhan yang jelas-jelas mengatur hidupku. Akhirnya aku yang jatuh. Aku yang lepas dari naifku. Aku mencintaimu. Cinta pertama yang terlambat disadari. Cinta pertama yang mengubah hidupku dalam sepersekian detik. Cinta pertama yang membuatku terlalu tegar. Cinta pertama yang mengombang-ambingku tanpa ampun. Cinta pertama yang membuatku hangat. Sehangat mentari.
Lalu, bagaimana caraku jatuh cinta? Kamu.
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Mengenalmu lebih dalam melalui sebuah skenario aneh yang terlalu drama untuk realita. Mengenalmu dengan terlalu gombal, yang membuatku menghakimimu sama dengan yang lainnya. Membuatku ingin mempermainkanmu saja!. Namun tak kusadari, kau perlahan tapi pasti. Bergerak dalam diam menelusup hatiku.
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Menyia-nyiakanmu yang tertarik padaku. Dulu. Sayangnya itu dulu. Ya, karna aku terlalu naif. Aku terjatuh, tersakiti oleh tingkahku sendiri. Kau bersamanya. Dia yang sebelumnya berkata kau hanya untukku. Dia yang berusaha meyakinkanku bahwa kamulah orangnya. Kau bersamanya.. di depan mataku. Membiarkanku terhimpit oleh kemesraan kalian. Membuatku membencimu. Makin membencimu. Aku hanya tak tahu, bahwa benciku itu, adalah cara bagaimana aku menghindari perasaan-perasaan cinta yang kau baawakan. Karna aku hanya.. takut. Baik, aku bahkan sulit untuk mengakui aku mengangisimu waktu itu. Waktu kau bersamanya.
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Kali ini yang kedua kalinya. Dimana Tuhan tak menginginkan kemunafikanku lagi dengan membawamu kembali masuk setelah satu tahun tanpa kata darimu. Aku memang naif. Pada awalnya aku masih saja menghindarimu. Ketahui saja, aku tak pernah melupakanmu. Sedikit pun. Namun bagaimana?. Aku hanya tak mengerti teori kompleks untuk melupakanmu. Yang ku tahu hanyalah dengan "menjadi lupa" denganmu.
Inilah bagaimana aku jatuh cinta. Mengenalmu lagi. Bodohnya aku terjebak dalam sandiwaraku sendiri. Aku bodoh, menantang skenario Tuhan yang jelas-jelas mengatur hidupku. Akhirnya aku yang jatuh. Aku yang lepas dari naifku. Aku mencintaimu. Cinta pertama yang terlambat disadari. Cinta pertama yang mengubah hidupku dalam sepersekian detik. Cinta pertama yang membuatku terlalu tegar. Cinta pertama yang mengombang-ambingku tanpa ampun. Cinta pertama yang membuatku hangat. Sehangat mentari.
Lalu, bagaimana caraku jatuh cinta? Kamu.
Subscribe to:
Posts (Atom)